Kadiv PAS Jatim Terima Kunjungan Kejaksaan Rakyat Daerah Tiongkok di Rutan Surabaya

SURABAYA – Rutan Kelas I Surabaya mendapatkan tamu kehormatan sore ini (28/10).

Kejaksaan Rakyat Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, Tiongkok berkunjung untuk melihat kondisi Rutan yang terletak di Desa Medaeng itu. Mereka ingin melihat bagaimana pembinaan para tahanan di Rutan Medaeng.

Rombongan dari Tiongkok itu didampingi beberapa pejabat dari Kejaksaan RI. Diantaranya Kabag Kerjasama Luar Negeri Kejagung Neva Sari Susanti, Kajari Surabaya Anton Delianto, Kajari Sidoarjo Setiawan Budi.

Sedangkan dari Tiongkok adalah Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Rakyat Daerah Otonomi Guangxi Zhuang Mr. Wei Fuxi.

Rombongan disambut langsung Kadiv Pemasyarakatan Pargiyono dan Kepala Rutan Surabaya Teguh Pamuji.

Baca Juga:  Ombudsman RI Sidak Rutan Medaeng dan Lapas Sidoarjo

Dalam sambutannya, Pargiyono memberikan gambaran awal di Rutan Medaeng.

Dimana secara bangunan tidak seberapa luas, tapi sangat padat. Kapasitasnya hanya 504, tapi penghuninya lebih dari 3.017 orang. Ada over kapasitas sekitar 600 persen.

“Sehingga bagi tahanan dan narapidana yang belum bisa dipindahkan, sangat tidak nyaman. Karena harus menempati tempat yang tidak ideal,” terang Pargiyono.

Pargiyono mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kunjungan yang dilakukan. Dia berharap forum tersebut bisa jadi ajang saling sharing antar instansi.

“Terima kasih atas kunjungannya, ini sangat membanggakan untuk kami,” tuturnya.

Baca Juga:  Ikuti Arahan Dirjenpas, Divisi Pemasyarakatan Jatim Komitmen Berantas Peredaran Narkoba Dalam Lapas

Sedangkan Kajari Surabaya Anton Delianto yang mewakili Kejaksaan mengungkapkan rasa terima kasihnya karena pihak rutan telah menyambut dengan luar biasa.

Dia berharap akan banyak sharing informasi terkait struktur organisasi. Serta pertukaran informasi sistem peradilan di Indonesia dan Guangxi Zuang.

“Kami berharap melalui kunjungan ini akan banyak sharing informasi terkait struktur organisasi. Selain itu juga sebagai ajang pertukaran informasi sistem peradilan baik di Indonesia maupun di Guangxi Zuang, Cina,” terang Anton Delianto. (AF)