Menkumham Yasonna Sebut Pemakai Narkoba di Penjara Dapat Menimbulkan Kejahatan Baru

JAKARTA – Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly menyatakan, upaya negara membangun sistem hukum harus benar-benar berkeadilan, tanpa diskriminasi dan menjangkau seluruh struktur politik ketatanegaraan, untuk menjamin hak dasar warga negara.

Yasonna menyadari, untuk melaksanakannya bukan perkara mudah. Dirinya bahkan beberapa kali disorot, karena kebijakan yang diambil menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.

Di antaranya kebijakan asimilasi narapidana, hingga pro rehabilitasi bagi kasus pengguna narkoba, sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 35/2009, tentang Narkotika.

“Pemakai narkoba di penjara dapat menimbulkan kejahatan baru. Jika kurir dimasukkan dalam lapas, pengguna dalam lapas, bandar dalam lapas, ya pasar,” ujar Yasonna pada program acara ‘Ngobrol Bareng Gus Miftah’ di iNews, Jumat (15/1).

Alasan lain, putra terbaik asal Sumatera Utara ini juga menyebut kapasitas lembaga pemasyarakatan semakin melebihi kapasitas, di mana kejahatan terkait narkoba mendominasi lebih dari 50 persen lapas di Indonesia.

Baca Juga:  Petugas Lapas Kedungpane Semarang Berhasil Gagalkan Penyelundupan Narkoba

“Bahkan, di beberapa wilayah ada yang sampai over kapasitas hingga 300-400 persen,” ucapnya.

Yasonna kemudian menyoroti deretan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu yang belum tuntas. Misalnya, pembunuhan terhadap aktivis Munir. Selama 13 tahun aksi kamisan berjalan, aksi menolak lupa terus digalakkan.

“Kita tidak mengatakan memaafkan, tetapi juga tidak melupakan. Harus maju, luka-luka sejarah harus diperbaiki,” ucap Yasonna begitu Gus Miftah bertanya kabar dan keseriusan pemerintah mengusut kasus HAM berat.

Yasonna menyadari, desakan mundur adalah konsekuensi jabatan. Namun, sepanjang apa yang dikerjakan benar dan dipertanggungjawabkan, politikus PDIP ini menyebut akan jalan terus.

Baca Juga:  Menkumham Berikan Sertifikat Hak Cipta kepada Brimob

Sementara itu, Gus Miftah mengakui tidak mudah menjadi pribadi yang disukai banyak orang.

Terpenting dari semuanya, kata Gus Miftah, harus adil menempatkan segala sesuatu secara proporsional sesuai dengan tempatnya.

“Adil tidak harus sama, karena ujiannya pun berbeda-beda. Maka ujian bagi pemimpin dan bagi rakyat tentunya berbeda,” paparnya.

Gus Miftah juga menyebut, semakin tinggi jabatan seseorang, maka akan semakin kencang terpaan angin yang datang.

“Kenapa hidup ini banyak ujian? Karena Tuhan mau menguji di antara kalian siapa yang lebih baik amalnya. Ingat, Tuhan itu adil. Saat Dia memberikan masalah besar, tandanya ingin mempersiapkan kita untuk jadi orang yang besar,” pungkas Gus Miftah.(*)