Kakanwil Buka FGD Pemahaman RUU Pemasyarakatan di Rutan Bangil

PASURUAN – Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) RUU Pemasyarakatan (RUU PAS) dilakukan di berbagai tempat di Jatim. Usai Lapas Porong, Rutan Bangil beserta UPT Pemasyarakatan di Pasuruan menggelar kegiatan serupa siang ini, Kamis (26/9).

Tujuannya, agar semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya RUU tersebut.

Kegiatan yang dipusatkan di Aula Rutan Bangil itu dibuka langsung Kakanwil Kemenkumham Jatim Susy Susilawati.

Di forum tersebut, Susy didampingi seluruh kepala UPT Pemasyarakatan di daerah Pasuruan. Mereka membedah RUU PAS bersama dengan dekan, wakil dekan, dosen dan mahasiswa Universitas Merdeka Pasuruan serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Informatika (STIE) YADIKA.

Kakanwil kembali menjelaskan bahwa RUU Pemasyarakatan diharapkan untuk segera disahkan. Namun karena bersamaan dengan ditolaknya beberapa RUU seperti RUU KPK dan RUU KUHP lainnya maka RUU Pemasyarakatan terkena imbasnya dan dianggap dipaksakan.

“Padahal RUU ini sudah dirancang sejak sekitar awal tahun 2012, sudah silih berganti Dirjen Pemasyarakatan dan Menkumham yang ingin menyempurnakan UU Pemasyarakatan yang lama,” jelasnya.

Baca Juga:  Kakanwil Minta Petugas-WBP Rutan Perempuan Surabaya Jaga Kebersihan

Sebagai bentuk keterbukaan, Kakanwil mempersilahkan para civitas akademika yang hadir untuk membedah RUU PAS. Caranya dengan memberikan kritik dan masukan membangun dengan mengedepankan nilai-nilai akademis.

“Kami menggelar FGD di beberapa kota di Jatim, tujuannya agar masyarakat semakin paham substansi dari RUU PAS,” tutur Susy.

Rangkul Civitas Akademika

Sebelumnya, Kakanwil menjelaskan bahwa RUU Pemasyarakatan diharapkan untuk segera disahkan, namun karena bersamaan dengan ditolaknya beberapa RUU seperti RUU KPK dan RUU KUHP lainnya maka RUU Pemasyarakatan terkena imbasnya dan dianggap dipaksakan,

“Padahal RUU ini sudah dirancang sejak sekitar awal tahun 2012, sudah silih berganti Dirjen Pemasyarakatan dan Menkumham yang ingin menyempurnakan UU Pemasyarakatan yang lama,” jelas Susy saat menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan Civitas Akademika, di Aula MD Arifin Lapas Surabaya, (26/9).

Susy menambahkan bahwa dirinya termasuk pelaku sejarah terkait RUU ini. “Karena pada saat itu saya bertugas selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Sesditjenpas) dan menjadi salah satu Ketua dalam pembahasan RUU PAS,” ungkap Susy.

Baca Juga:  Solid Bersinergi dan Berkolaborasi Tingkatkan Layanan Keimigrasian, Menkumham Beri Apresiasi Kepada Tiga Pemkab di Jatim

Menurut Susy banyak blow up pemberitaan di masyarakat akibat kurang pemahaman, salah satunya terkait cuti bersyarat dan Rekreasional. Susy berharap diskusi ini menjadi masukan yg baik, tidak ada yang menjadi narsum, semua adalah narsum. Mari bersama melihat dan membedah.

“Intinya RUU ini sangat berbasis HAM dan membantu banyak orang yang berhadapan dengan hukum,” tutup Susy.

Sementara itu, Achmad Rubaie menyatakan bahwa dirinya termasuk yang mendukung dan mensuport RUU Pemasyarakatan, menurutnya pembinanan dengan nilai memanusiakan manusia sudah sangat tepat. Terkait dengan asas yang ada pada RUU tersebut sangat tepat.

“Penting menurut saya sebab asas suatu nilai menafasi pasal2 berikutnya. Yang tidak hanya dipakai petugas napi dan Masyarakat,” tutur Achmad.

Dia juga memberi masukan ada tambahan yaitu adanya asas pemulihan. Artinya penggagas uu ini sangat mulia, tidak hanya hukuman2 saja tapi ada pemulihan kepada manusia. “Intinya kami datang untuk mendukung dan mensuport,” pesannya. (AF).